Home > Anti Biasa > Harga Petani

Harga Petani

Tak bisa dimengerti, bagaimana mereka bisa hidup dan menghidupi keluarganya. Apa yang saya tulis ini berhubungan dengan petani, walau saya ndak ahli pertanian. Saat saya menumpang bus eksekutif dari Kudus ke Semarang (yang oleh perusahaannya dibilang “Ini bukan bus, melainkan Scania bus”), sesampainya di kota Demak ada pedagang yang menjual makanan produk pertanian. Yang satu jual kedelai rebus, yang satu kacang goreng. Kedelai dijual ikatan, kacang goreng dijual dalam kemasan plastik, masing2 harganya seribu rupiah. Kedelai rebus yang muda, hangat2, ditambah kacang goreng renyah, pakai bawang, pas dimakan di suasana perjalanan yang dingin karena hujan.
Sambil menikmatinya, saya berpikir, bagaimana proses makanan itu dari awal sampai ke tangan saya. Keduanya melalui proses panjang, musti nyiapkan lahannya, musti menanan, musti merawat, dipupuk, dipanen, diproses dan dipasarkan. Itu butuh biaya, tenaga dan waktu berbulan2. Knapa mereka mampu bertahan dengan harga jual seribu rupiah?. Berapa yang didapat petaninya, pekerjanya, penjajanya?. Padahal saya yakin, itu melalui mata rantai. Berapa biaya membeli bibitnya, mengolah lahannya, menanamnya, memanennya, memprosesnya, memasarkannya. Memang menanamnya mungkin dalam jumlah banyak. Tapi memasarkannya?. Satu bis berpenumpang 40 orang, yang beli cuman 2 orang.
Satu penjaja cuman mampu bawa 10 s.d 15 ikat.
Sebegitu murahkah nilai petani di negeri ini?. Siapa yang mempedulikan nasibnya?. Seratus persen mereka hidup tanpa proteksi, tanpa perlindungan. Sementara perusahaan raksasa dilindungi habis2an. Contoh kecil Pertamina. Ndak ada kamusnya perusahaan raksasa itu merugi, karena seluruh biaya dari hulu sampai hilir diperhitungkan dan dibebankan pada konsumen. Untungnya mudah dihitung, karena ndak pernah ndak laku, ndak pernah turah, apalagi busuk.
Tapi bagaimana dengan kedelai rebus tadi?. Siapa yang nanggung kalau ndak laku hari ini?.

Categories: Anti Biasa
  1. 20 December, 2008 at 10:32 pm

    begitulah nasib petani Pak…saya dan keluargaku dahulu mengalaminya🙂

    @Alfahru:
    “Pembibit lele apa ya petani?”

  2. 20 December, 2008 at 11:15 pm

    Jangan salah bozz, petani indon bisa beli pesawat tempur barter sama jagung, kedelai, minyak sawit, beras, kacang ijo, karet, kopi, teh de el el

    @Mas Bawor:
    “Tapi musti ditukar dengan ber ton2 komoditi pertanian”

  3. 20 December, 2008 at 11:50 pm

    orang tua ku juga petani tradisional. Karena mereka hidup tanpa proteksi apalagi asuransi, andaikan mereka tidak punya pikiran utk maju, mungkin hingga hari ini mereka tetap sebagai petani… tanpa ada kemajuan apapun.

    Nasib petani selalu dipermainkan para tengkulak. Itulah realita yang sering saya lihat dikampung halaman saya..

    Postingan yang bagus.. mister

    @ Om Khay:
    ini buat nyoba saja. Wah, napa musti pakai edit ya…

  4. 21 December, 2008 at 12:11 am

    Yang menanggung pedagang pak! Karena mereka sudah beli dari petani. Kalau mereka terus menerus rugi ya akhirnya nggak beli dari petani… Lha multiflier effect seperti ini yang bikin dampakny nggak karu-karuwan… Piye jal ki? Ku yo bingung…

    @ Mas Andy MSE:
    “Ayo bingung bareng Mas…”

  5. 21 December, 2008 at 8:58 am

    Karena itu di seluruh penjuru bumi ini ada jarak antara petani dan kaum priyayi.🙂

    Petani sudah sangat apatis dengan kaum berpunya.

    @ Mas Gun:
    Iya Mas, ndak ada pembela buat petani. Kasihan sekali kalau melihat kenyataan itu.

  6. 21 December, 2008 at 10:44 pm

    Yang jelas rugi memang pedagang…. tapi petani juga ikut rugi karena kalau pedangan ga laku jualannya, lah ga da yang beli lagi dari petani… sama2 rugi dong!! hehehe….

    @Mbak Afrianti:
    Saya kalau lihat gitu2 ndak tega, tapi ndak bisa berbuat apa2.

  7. 22 December, 2008 at 12:44 pm

    memang kesian kalo liat nasib petani kita… harga pupuk mahal bibit juga mahal blm lagi urusan pemasaran😦

    @ Mbak Lyla:
    Petani kita sudah ndak kuat nyekolahkan anak.

  8. 22 December, 2008 at 2:24 pm

    walah, ternyata marsudiyanto.info-nya dah dilaunching, hehehe … kok bancakane ndak sampai tempat saya, kekeke …. wah, kalao bicara nasib petani, sejak dulu sepertinya ndak pernah mengalami perubahan, pak mar. ini sebuah ironi hidup di negeri agraris.

    @ Pak Sawali:
    Durung di release Pak.
    Iki jek cheking modul & sound…

  9. 22 December, 2008 at 6:13 pm

    Hidup orang kaya 😀

    @ Gus Ye:
    Orang miskin mati semua…

  10. 22 December, 2008 at 10:08 pm

    yang nanggung “gusti yang menguasai hidup ini” pak guru…

    @ Mas Imam:
    Wah… Wis ngiyai…

  11. 22 December, 2008 at 10:11 pm

    btw: ya pak guru. istri saya adiknya mbak nanik…

  12. 30 December, 2008 at 9:42 pm

    begitulah nasib manusia petani pak…
    kalo pernah baca buku “kekalahan manusia petani”… bisa paham benar tentang masalah yang dihadapi petani kita.

    Bayangkan aja kacang seplastik td lebih murah dari harga kita buang air kecil di stasiun, atau parkir di toko besar. Masya Allah..

  1. 14 January, 2009 at 11:39 pm
  2. 15 January, 2009 at 2:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: